Industri Mamin Hanya Serap Gula Lokal Lampung
"Jangan salah lagi, industri mamin sudah lama mengambil gula lokal."
Rabu, 16 September 2009, 15:57 WIB
Antique, Elly Setyo Rini
Pabrik gula di Kediri (Arief Priyono)

VIVAnews - Industri makanan minuman (mamin) yang selama ini dituding menimbulkan naiknya harga gula karena mencaplok pasokan gula kristal putih (GKP) dibela oleh kalangan industri rafinasi.

"Jangan sampai salah tafsir, industri mamin banyaknya serap gula produksi Lampung," kata Direktur Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) M Yamin Rahman di Jakarta, Rabu, 16 September 2009.

Menurutnya, gula produksi Lampung relatif bagus kualitasnya sehingga industri mamin yang kalau pun menggunakan gula lokal pasti memilihnya. "Jangan salah lagi, industri mamin sudah lama mengambil gula lokal. Bahkan, sebelum industri rafinasi berkembang, industri mamin menggunakan gula lokal," ujar Yamin.

Namun, Yamin menambahkan, industri mamin tidak mengambil sembarang GKP yang diproduksi oleh 58 pabrik gula se-Indonesia. "Pasti ngambilnya produksi Lampung, karena kualitasnya lebih bagus. Gula Lampung itu semi rafinasi. Jadi, jangan anggap produksi semua pabrik-pabrik gula itu
sebagus Lampung," kata dia.

Dengan demikian, dia membantah bahwa GKP secara nasional kualitasnya sama bagusnya sehingga bisa menggeser kualitas gula rafinasi. "Jadi, kalau Arum Sabil (Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia/APTRI) bilang gula lokal sudah bagus kualitasnya, jadi tidak benar," ujar Yamin.

Yamin mengakui, sejumlah industri mamin, seperti bakery dan sirup, memang tidak bisa menggunakan GKP karena persyaratan icumsa.

Dirinya menyesalkan, sejumlah pihak yang menyalahkan industri rafinasi menjadi penyebab naiknya harga. "Dulu waktu rafinasi rembes ke pasar, kita dimarahin. Sekarang gantian, gula konsumsi rembes ke industri, kita juga dimarahin," tutur Yamin.

Merembesnya gula konsumsi di industri makanan minuman, terutama di skala kecil, ditengarai karena pasokan gula rafinasi ke distributor yang terus tergerus. "Posisinya sekarang, alokasi rafinasi sebanyak 90 persen langsung ke industri besar dan menengah sesuai kontrak dan sisanya 10 persen masuk ke distributor bagi industri yang membutuhkan gula rafinasi dalam jumlah yang sedikit," kata dia.

Porsi 10 persen di tingkat distributor, menurutnya, akan berpotensi terus berkurang mengingat permintaan industri menengah dan besar terus bertambah.


antique.putra@vivanews.com

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.