|
SURABAYA POST - Mendung tampak tebal di langit Pasuruan Senin pagi itu, namun Nyonya Wakiah (25) dan suaminya, Ikbal, tetap bersiap berangkat dari rumahnya di Gempol, Pasuruan, itu. Dengan menaiki sepeda motor, pasangan muda ini berangkat menuju Diwek, Jombang.
Wakiah sebenarnya sedang hamil tiga bulan. Namun demi berziarah ke makam Abdurrahman Wahid, hujan dan angin pun mereka terjang demi mencapai Jombang Senin sorenya. Senin malam ini, akan ada peringatan 40 hari wafatnya cucu pendiri Nahdlatul Ulama Hasyim Asy'ari itu.
“Sejak dulu Gus Dur adalah tokoh yang menjadi panutan kami," kata Wakiah. "Saya datang ke mari, ingin berdoa agar Allah memberikan sebagian kepandaian Gus Dur dalam memahami agama Islam ke anak saya nanti,” ujar Wakiah.
Abdullah (40), warga Kebomas, Gresik, mengatakan, kedatangannya ke makam Gus Dur untuk minta maaf karena dalam Pemilu 2004 dia tak mencoblos Partai Kebangkitan Bangsa, partai yang didirikan Gus Dur. Hak suaranya diberikan ke parpol lain.
“Saya melakukan itu, karena saya sudah menjadi pengangguran satu tahun dan diberi pekerjaan menjadi karyawan sebuah kantor. Syaratnya saya harus menyoblos parpol ini. Semula saya menolak, namun karena butuh pekerjaan, maka saya penuhi syarat itu,” katanya.
Padahal sebelum terkena PHK, bapak empat anak ini dikenal sebagai kader PKB. Setiap ada kegiatan PKB lelaki kekar ini tidak pernah absen. “Rasa bersalah saya itulah yang menggerakkan saya datang ziarah ke makam Gus Dur. Semoga arwah Gus Dur bisa memaaafkan kesalahan saya itu,” katanya.
Sementara, Ny. Munawaroh dan Akhmad Muntholip warga Banyuwangi mengatakan, hanya satu tujuannya: mendoakan Gus Dur agar amal ibadahnya biasa diterima di sisi Allah. “Gus Dur adalah panutan kami. Beliau orang yang sederhana, sayang kepada sesama dan ikhlas dalam menyiarkan agama Islam. Beliau tidak pernah menjelek-jelekkan agama lain. Enam tahun lalu saya pernah berjabat tangan dengan beliau, rasanya sampai sekarang masih terasa,” katanya.
Lain lagi Hari Utomo (26) warga Sanan Wetan Kota Blitar. Ia dan empat temannya datang ke Ponpes Tebuireng hanya untuk melihat makam Gus Dur. “Kami baru sekarang ini mengetahui persis makam Gus Dur. Kami memang beragama Islam, namun tidak bisa membaca Al Quran. Shalat lima waktu saja bolong-bolong, ya terpaksa berdoa sebisanya, setelah itu kita jalan-jalan cuci mata saja,” katanya.
Siapa tahu, tambah dia dengan datang ke makam ini nantinya dia bisa menemukan jodoh. “Semoga dapat kenalan wanita,” katanya.
Laporan Bambang Sujarwanto