Hindari berebut, satu orang hanya dijatah tiga sampai lima kali cangkulan.
|
|
(VIVAnews/Tri Saputro) |
|
SURABAYA POST -- Puluhan santri di Ponpes Tebuireng mengantre ingin mendapat giliran menggali liang lahat Gus Dur. Puluhan santri itu berdiri berjajar, mengerumuni lokasi makam Gus Dur ini sempat berebut tempat demi mendapat andil.
Takut terjadi aksi royokan, akhirnya beberapa petugas menertibkan santri. Para panitia penggalian dari kalangan ustadz Ponpes Tebu Ireng juga bergantian mengeruk tanah yang dianggap 'bertuah' alias membawa berkah itu.
Bahkan, satu orang hanya dijatah tiga sampai lima kali cangkulan. Tanah bekas cangkulan langsung dimasukkan ke dalam karung yang sudah dipersiapkan. "Semuanya, lihatlah tanah yang kita gali ini. Ini adalah calon makam untuk seorang hamba Allah," ungkap Ustadz Lukman, sambil memuji dan bersyukur kepada Allah SWT, Kamis dini hari (31/12).
Tanah bekas galian yang telah dimasukkan dalam karung-karung itu kemudian dibawa para santri menjauh dari lokasi galian. Mereka meletakkan tanah itu secara hati-hati beberapa meter dari makam Gus Dur. Para santri lainnya terus membacakan ayat-ayat suci Al-qur an dengan pengeras suara tidak jauh dari makam tersebut.
Sedikitnya 111 karung kecil (sak, red) tanah galian makam Gus Dur di kompleks pemakaman umum Ponpes Tebuireng Jombang dikeluarkan. Ini menandai, jika proses penggalian telah selesai. Dalam penggalian pemakaman yang dilakukan puuhan santri Ponpes Tebuireng itu, didapatkan tanah galian sebanyak 111 sak.
Laporan: Bambang Sujarwanto
• VIVAnews