|
SURABAYA POST - Stok gula nasional hingga pekan lalu dipastikan maksimal tidak lebih dari 500 ribu ton. Jumlah tersebut dengan rincian 350 ribu ton berada di gudang-gudang pabrik gula (PG) baik negeri maupun swasta di Jawa serta 150 ribu ton lagi di gudang PG luar Jawa serta di tangan para pedagang.
“Itu asumsi maksimal. Bisa jadi malah tidak sampai sebanyak itu. Dengan stok hanya sejumlah itu, praktis kita hanya bisa bertahan hingga akhir tahun. Di luar itu jelas akan terjadi kelangkaan,” ujar Arum Sabil,Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Selasa (1/12).
Kelangkaan tersebut, menurut Arum, dipastikan dari jumlah konsumsi gula masyarakat secara nasional yang diperkirakan sekitar 2 juta ton per tahun. Menipisnya stok gula nasional ini, Arum menjelaskan, akibat sebagian stok gula untuk konsumsi rumah tangga terserap untuk kebutuhan industri.
Hal ini terkait tingginya harga gula dunia beberapa waktu lalu sehingga kalangan industri yang normalnya menggunakan gula impor terpaksa ikut mengonsumsi stok gula nasional.
“Sebenarnya dengan asumsi produksi kita tahun ini yang hanya 2,7 juta ton dikurangi konsumsi masyarakat sebesar 2 juta ton, kita masih punya cadangan 700-an ribu ton. Hanya cadangan ini menipis akibat terserap industri,” jelasnya.
Dengan kondisi ini, lanjut Arum, kebijakan impor gula tidak bisa dihindarkan dan bahkan menjadi satu-satunya solusi mengisi kekosongan stok awal tahun hingga datangnya musim giling 2010 sekitar bulan Mei.
Namun, karena kebutuhannya untuk mengisi kebutuhan konsumsi masyarakat secara umum, Arum menegaskan yang perlu diimpor pemerintah adalah gula kristal putih (GKP) dan bukannya gula rafinasi atau pun gula mentah (raw sugar).
Laporan ; Taufan Sukma
• VIVAnews